Presiden Russia Putin sangat yakin bajwa warga negaranya telah diberikan keuntungan sosial dalam jumlah yang besar. Inilah mengapa ia secara tegas memutuskan untuk berhenti menghabiskan pengeluaran pemerintah dan mengembangkan proyek dan program sosial baru. Russia merupakan salah satu negara pertama yang mengatakan bahwa negaranya memiliki level tanggung jawab sosial yang terlalu tinggi. Perlu dicatat bahwa sumber daya Russia masih berada di tangan sebagian orang dan sepertinya tidak akan dibagikan dengan yang lainnya.
Sementara itu, negara-negara dimana keuntungan pengangguran beberapa kali lebih tinggi dari kebutuhan hidup Russia, tetap menyediakan bantuan untuk penduduknya walaupun ekonomi dunia melemah. Namun, mulai saat ini, pemerintah Russia akan terlebih ahulu menilai apakah mereka memiliki dana cukup sebelum mengambil keputusan apapun.
Berdasarkan Putin, ditengah situasi ekonomi saat ini, "tidak akan adil bagi mereka yang dijanjikan sesuatu sebelumnya jika pemerintah memulai program keutungan yang baru”.
Pihak berwenang pemerintah sedang mencoba untuk menemukan cara bagaimana memangkas anggaran dan memperlambat pengeluaran yang disetujui sebelumnya. President Putin tidak menganggapnya layak secara ekonomi untuk memenuhi janji yang diberikan sebelumnya. Kementrian Keuangan telah memperkenalkan beberapa proposisi termasuk pembatalan modal bersalin setelah setelah tahun 2016, revisi pengeluaran dana pensiun, menaikan usia pensiun menjadi 60 tahun, dan pengeluaran pemerintah yang tidak efektif dipotong 10-15%.
Sementara perdana Mentri Medvedev menganggap pengenalan biaya persalinan merupakan langkah yang efisien untuk mengefektifkan tingkat kelahiran negara itu, namun sepertinya para ahli tidak setuju dengan pendapat tersebut. Mereka mengatakan lonjakan kelahiran bukan disebabkan oleh biaya modal persalinan, namun lebih ke hal yang sepele: pada tahun 1980an terjadi pertumbuhan populasi yang padat dan saat ini generasi tersebut mencapai usia reproduktifnya.