Para investor Cina tengah meningkatkan eksistensi mereka dalam waktu singkat. Meski Afrika dan Timur Tengah tengah menghadapi konfrontasi kuat antara pihak oposisi dan pemerintah atau bahkan berada dalam perang sipil, para pengusaha menggunakan kesempatan ini untuk menghasilkan keuntungan. Beberapa hari lalu, perusahaan minyak asal Cina Sinopec mengumumkan kesepakatan dengan perusahaan Amerika Apache. Apache menjual 33% saham minyak Mesir dan bisnis gas senilai $3,1 miliar. Baru-baru ini, semakin banyak perusahaan energi yang mulai membeli aset di kawasan yang tidak stabil. Perusahaan barat dan Amerika khawatir membangun bisnis di kawasan semacam itu dan menghindari investasi dalam jumlah besar untuk eksploitasi sumber daya alam. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan asal Cina justru siap mengambil resiko. Sebagai contoh, di Mesir sebagian besar ladang minyak terletak di perbatasan Mesir dan produksi minyak tidak pernah dihentikan atas alasan mengganggu publik. Berbeda Rusia, Sinopec menganut prinsip membeli aset-aset asing untuk memenuhi permintaan energi Cina, namun perusahaan tersebut memilih menjadi pemilik saham minoritas untuk mengurangi resiko." Kekaisaran Cina merupakan konsumen energi terbesar kedua di dunia, dan Beijung secara resmi mendukung sikap-sikap nasionalisme seperti yang dilakukan Sinopec di dalam negeri. Oleh karena itu, jika gangguan publik mengancam properti komersil perusahaan-perusahaan nasionalnya, Beijing dapat menngunakan tekanan militer.