Pada pandangan pertama, AS tampaknya lebih unggul dalam pertempuran ekonomi dengan China. Namun, beberapa data interim pada neraca perdagangan membuktikan sebaliknya. Washington selalu menemukan alasan untuk menggarisbawahi keuntungannya dalam perang dagang. Sementara itu, Beijing telah memetik pelajaran dari retorika proteksionis Presiden AS, Donald Trump. Sikap anti-China yang keras dari Trump meyakinkan Beijing untuk meneruskan proses penggantian impor dengan barang-barang manufaktur lokal yang jelas bermanfaat bagi perekonomian domestik dalam jangka panjang.
Statistik tampak seperti hakim yang tidak memihak yang membuktikan bahwa China melampaui AS dalam semua metrik utama. Misalnya, Beijing membatalkan komitmennya pada impor AS di bawah kesepakatan perdagangan fase pertama yang ditandatangani pada Januari 2020. Beijing telah meningkatkan surplus perdagangannya dengan AS hampir 25% sejak dimulainya masa kepresidenan Trump. Perekonomian China adalah yang pertama berkembang setelah langkah-langkah pembatasan dicabut. Hebatnya, ini adalah satu-satunya negara di antara 48 ekonomi global terbesar yang PDB Q2 melampaui output ekonomi nasional di seluruh tahun 2019. Sementara itu, perekonomian AS mencatat kemerosotan bersejarah sebesar 32,9% di Q2 secara tahunan. Di sisi forex, Yuan memperpanjang kenaikan yang stabil untuk bulan kedua berturut-turut. Selain itu, obligasi China memenangkan perhatian investor global karena hasil yang meningkat. Terakhir, sektor manufaktur China jelas mendapatkan momentum.
Mengejar tujuan untuk mengganggu hubungan jangka panjang antara perekonomian AS dan China, Donald Trump akhirnya mendorong Beijing untuk lebih merdeka. Beijing akan mendapatkan keuntungan dari strategi ini dalam 5 tahun ke depan, para analis di Bloomberg mengomentari prospek ekonomi China. Kebijakan ekonomi baru ini disebut “dual circulation”. "Internal circulation" difokuskan pada peningkatan pasar domestik China, sedangkan "external circulation" mengacu pada perdagangan dengan negara lain.