China memanfaatkan situasi pandemi yang memburuk

Virus Corona masih berkecamuk di seluruh dunia. Saat ini, situasi epidemiologi agak ambigu. Di satu sisi, penyebaran virus corona telah menurun dibandingkan dengan anti-record terbaru yang tercatat di banyak negara. Di sisi lain, banyak negara yang kembali memberlakukan tindakan karantina.

Jerman, Inggris, dan Prancis telah memberlakukan pembatasan. Negara-negara Eropa lainnya sedang mempertimbangkan kemungkinan seperti itu. Anehnya, hanya di China, masalah seperti itu bahkan tidak ada dalam agenda. Menurut data resmi, mungkin hanya ada 24 kasus baru per hari di China dengan 21 orang berasal dari luar negeri. Mengingat tingkat kasus baru yang lebih rendah dan situasi epidemiologis yang lebih stabil, pemerintah China telah memutuskan untuk memanfaatkannya. Misalnya, negara tersebut menggunakan COVID-19 sebagai pelindung ketika perlu segera membatasi impor barang tertentu. Dengan kedok standar sanitasi dan perhatian terhadap kesehatan warganya sendiri, Beijing dapat melarang barang impor yang bersaing seperti salmon dari Rusia atau produk pertanian dari Amerika Serikat dan Eropa. Rupanya, China mengejar kepentingan komersialnya sendiri.

Sedangkan situasi pandemi tampak mengkhawatirkan. Episentrum pandemi kembali berpindah dari Amerika Utara dan Selatan ke Eropa. Pimpinan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengisolasi diri setelah kontak dengan pembawa COVID-19.