The Fed AS prihatin terhadap situasi ekonomi yang ada. Kepala The Fed dan mantan Presiden AS masih menyatakan bahwa perekonomian negara tersebut cukup sehat. Namun, saat ini indikator pasar saham AS tengah mencerminkan keadaan sebenarnya, termasuk kebijakan moneter yang sangat longgar.
Kemerosotan ekonomi global, gejolak politik, serta permasalahan di sektor bisnis dan gelombang kedua pandemi virus corona berpengaruh besar terhadap pasar saham AS. Indeks masih bertahan hanya karena program pencetakan uang The Fed yang belum pernah terjadi sebelumnya. Regulator terus-menerus mengulang untuk tidak perlu mengkhawatirkan kenaikan suku bunga. Regulator meluncurkan satu demi satu program QE dan berencana mengeluarkan sejumlah besar uang untuk meningkatkan pasar dan perekonomian negara. Namun, peningkatan aspek seperti investasi dalam bisnis, inflasi, dan belanja konsumen tidak cukup. Ketiga masalah ini kemungkinan besar akan menghancurkan ekonomi, terlepas dari kebijakan Fed.
Namun demikian, pendekatan Fed lebih ketat daripada yang dipilih oleh bank sentral terkemuka lainnya. Jadi, ECB, Bank of Japan, dan beberapa bank sentral lainnya menahan suku bunga acuan mereka di level yang lebih rendah. Itu sebabnya keputusan Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan nampak sangat agresif.