Emas dapat melanjutkan kenaikan meski diterpa berbagai faktor

Tahun ini, permintaan untuk emas berubah sepanjang waktu. Namun, harganya terus melaju meski permintaan rendah. Menurut laporan dari Dewan Emas Dunia, kecenderungan ini akan tetap bertahan dalam jangka pendek.

Berbagai faktor, termasuk faktor negatif, turut mendorong harga minyak lebih tinggi. Pada awal tahun, harga emas berkisar tipis di atas $1.500 per troy ounce. Pada kuartal kedua, emas melonjak ke $1.700 per troy ounce. Dalam kuartal ketiga, logam mulia ini meroket 16% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya dan 32% dibandingkan dengan awal 2020. Pada Agustus, emas berhasil menembus level $2.000 per troy.

Setelah muncul kabar mengenai kesuksesan uji coba vaksin yang dilakukan oleh beberapa perusahaan barat, harga emas turun tipis. Sebagian analis yakin bahwa emas menghentikan rallynya. Namun, sekarang emas memiliki peluang besar untuk melanjutkan kenaikan harga. Khususnya, di awal tahun logam mulia naik di tengah kekhawatiran para investor. Saat ini, harga emas naik karena pelemahan dolar AS dan mata uang lainnya. Dengan menilai dinamika harga, kita dapat menyimpulkan bahwa bukan emas yang menjadi semakin mahal, tapi mata uang yang terdepresiasi.

Para pelaku pasar menghadapi situasi paradoks ketika harga mulai naik di tengah permintaan yang semakin turun tiap kuartalnya. Selain itu, harga emas menyentuh rekor tertinggi tepat setelah persediaan pasar emas mulai pulih. Para ekonom memperkirakan kemerosotan. Namun, harga kemungkinan akan melanjutkan kenaikan.