AS Pertahankan Tiongkok dalam Daftar Pengawasan Manipulator Mata Uang

Departemen Keuangan AS berjanji akan mengawasi dengan ketat kebijakan mata uang Republik Rakyat Tiongkok. Badan pengawas AS tersebut menyatakan akan terus memantau nilai tukar yuan.

Pemerintah AS pernah mencurigai Tiongkok memanipulasi nilai tukar mata uangnya. Status manipulator mata uang diberikan kepada negara-negara yang pemerintah dan bank sentralnya dengan sengaja membatasi penguatan mata uang nasionalnya. Dengan langkah tersebut, mereka dapat memberikan para eksportir keuntungan di awal. Departemen Keuangan AS telah menyebut Swiss dan Vietnam sebagai manipulator mata uang.

Awal tahun ini, sebelum pandemi COVID-19, Swiss dan Vietnam mendevaluasi mata uang mereka terhadap dolar AS agar unggul dalam trading. Namun, China belum disebut sebagai manipulator mata uang meski dicurigai oleh otoritas AS. Pada waktu yang sama, Washington akan mengawasi dengan seksama regulasi mata uang Tiongkok, Korea Selatan, Thailand dan India karena mereka telah lama dimasukkan dalam daftar pengawasan.

Intinya, AS berhak menjuluki sebuah negara sebagai manipulator mata uang jika negara tersebut menghasilkan surplus perdagangan bilateral lebih dari $20 miliar dengan AS dan surplus akun lancar globalnya lebih dari 2% PDB. Sebagai tambahan, tingkat intervensi mata uang asing harus lebih tinggi dari 2% PDB.

AS bertekad untuk mengungkap semua manipulator mata uang. Pada waktu yang sama, Janet Yellen, mantan pimpinan Federal Reserve dan bakal calon Menteri Keuangan AS, mengambil pendekatan yang netral terkait evaluasi kebijakan moneter negara-negara asing. Ia juga sangat berhati-hati dalam menyebut sebuah negara sebagai manipulator mata uang. Oleh karena itu, para pakar berpendapat tim Joe Biden kemungkinan akan merevisi daftar manipulator mata uangnya dan melonggarkan pengawasan yang ketat terhadap Tiongkok.