Menurut New York Times, jumlah target untuk serangan peretas telah meningkat di Amerika Serikat. Para ahli memperkirakan bahwa dalam laju skala besar serangan siber, sekitar 250 jaringan kemungkinan terkena dampak.
Investigasi secara seksama mengungkapkan bahwa setidaknya beberapa lusin jaringan menjadi korban kejahatan dunia maya. Sebelumnya diduga bahwa bahkan terdapat lebih banyak jaringan yang terdampak dari serangan siber. New York Times menunjukkan bahwa kriminal siber menggunakan server berlokasi di Amerika Serikat.
Secara khusus, sistem peringatan dini dunia maya yang digunakan oleh Komando Cyber dan Badan Keamanan Nasional tidak menanggapi intervensi tersebut. Faktanya, sistem gagal melacak kapan serangan cyber dimulai.
Para ahli menyarankan bahwa peretasan jaringan pemerintah dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian. Jaksa Agung William Barr mengatakan serangan dunia maya besar-besaran terhadap pemerintah AS kemungkinan besar dilakukan oleh Rusia.
Menteri Luar Negeri Mike Pompeo juga percaya bahwa mereka adalah peretas Rusia di balik serangan itu. Namun, Presiden Trump tidak setuju dengan gagasan itu, dengan mengatakan bahwa skala peretasan itu sangat dibesar-besarkan.