Inggris menghadapi kekurangan tenaga kerja terburuk yang pernah tercatat

Perusahaan-perusahaan Inggris tengah menghadapi kekurangan kandidat tenaga kerja paling parah yang pernah tercatat karena eksodus pekerja luar negeri yang disebabkan oleh lockdown dan Brexit. Krisis yang menjulang dalam pasar buruh dapat melumpuhkan pemulihan ekonomi. Bahkan pelonggaran pembatasan karantina gagal membuat cerah situasi.

Menariknya, pemulihan ekonomi di Inggris yang dimulai dengan cukup cepat kini melambat tajam karena krisis di pasar buruh. Sebagian besar pekerja imigran terpaksa meninggalkan negara itu. Hasilnya, itu memicu kekurangan tenaga kerja yang mengganggu bisnis. Pemerintah menghapus pembatasan aktivitas dalam upaya mendorong ekonomi. Menurut Kantor untuk Statistik Nasional, produk domestik bruto tumbuh hanya 0,1% pada bulan Juli dibandingkan dnegan bulan sebelumnya. Itu adalah perlambatan tajam setelah kenaikan bulan Juni sebesar 1%. Sektor jasa yang mencakup 80% ekonomi tidak menunjukkan pertumbuhan pada skala bulanan.

Konfederasi Industri Inggris (CBI) meminta pemerintah melunakkan peraturan migrasi ke Inggris. "Untuk membantu meredakan tekanan ini untuk sementara, intervensi bertarget diperlukan untuk membantu bisnis tetap terbuka," Alpesh Paleja, kepala ekonom di CBI mengatakan. Bridget Phillipson, sekretaris Treasury, berpendapat bahwa ketidakpastian pemerintah menahan pemulihan ekonomi. "Angka-angka hari ini menunjukkan bawah ekonomi Inggris mulai kembali normal, gangguan terhadap rantai persediaan dan kekurangan lainnya berarti pemulihan menginjak pedal rem," catatnya.