Musim semi ini penuh dengan peristiwa politik internasional. Salah satunya adalah penghapusan Rusia dari klub elit G8. Namun, lowongan profil tinggi tersebut tidak pernah kosong. Sementara itu, Cina bercita-cita akan menggantikan Rusia di meja bundar. Memang, kelompok 7 negara yang sangat maju saat ini telah menganggap keanggotaan Cina pada pertemuan darurat. Setelah hampir kerjasama menguntungkan selama 20 tahun, kelompok negara-negara terkaya terus melanjutkan keanggotaan sebelumnya ketika Barat sebelumnya melawan Uni Soviet. Jadi, anggota G7 berbagi pendapat bahwa Rusia tetap pada nilai yang berbeda. "Fakta bahwa Rusia adalah negara yang bertanggung jawab khusus untuk keamanan integritas teritorial Ukraina dan sekarang melanggar integritas teritorial ini sedemikian rupa jelas merupakan suatu contoh yang buruk di tingkat internasional dan saya berharap itu tidak akan menjadi contoh. Namun bahaya tersebut terjadi," Angela Merkel menyoroti. Para pemimpin politik membatalkan KTT reguler G8 yang dijadwalkan di kota Sochi Rusia. Namun, Kremlin masih berharap bahwa forum mungkin kembali ke format lama. "Sebagai percobaan, kita bisa melihat bagaimana kita dapat menangani tanpa hal ini selama satu atau setengah tahun," kata Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengomentari keputusan G7. banyak pakar politik setuju dengan pejabat tinggi Rusia. Mereka yakin bahwa klub elit akan kembali ke format G8 yang sebelumnya didirikan, tapi kali ini Cina akan menjadi anggotanya bukan Rusia. Sementara itu, setelah Rusia dikeluarkan dari forum, para pembuat kebijakan G7 mengembangkan ketiga sanksi yang menyangkut perekonomian Rusia. Sanksi akan mempengaruhi terutama sektor energi dan keuangan, perdagangan luar negeri, dan perintah pertahanan asing. "ekonomi sangat didiversifikasi, seperti ekonomi Rusia yang sangat bergantung pada minyak dan gas- , akan mengkhawatirkan apabila ada resiko sektor finansial, atau dalam senjata, atau perdagangan, atau pada energi. Kemunfkinan akan ada potensi sanksi, dan akan merugikan negara tersebut" kata Mark Rutte, Perdana Menteri Belanda. "Dan seperti yang saya katakan sebelumnya, kita harus merancangnya ( sanksi ) sedemikian rupa sehingga sanksi tersebut akan memberikan efek pada Rusia bukan pada Eropa, Amerika Serikat, Kanada, atau Jepang. "Terutama, Eropa telah menjadi konsumen utama dari gas alam Rusia.