Riyadh pertimbangkan harga jual minyak ke China dalam yuan

Riyadh dan Beijing saat ini sedang terlibat diskusi terkait penetapan harga penjualan minyak Saudi ke China dalam yuan, bukan dolar AS. Jika dihargai dalam renminbi, penjualan ini akan meningkatkan status tender legal China. Pengaturan ini telah dinegosiasikan antar kedua pihak selama enam tahun. Saudi pada awalnya enggan menerima mata uang nasional sebagai pembayaran minyak, tetapi perkembangan terakhir menciptakan urgensi baru untuk melakukan perbincangan. Riyadh sekarang mempertanyakan komitmen keamanan AS yang sudah lama dilakukan untuk Kerajaan. Jelas, langkah itu akan menjadi tantangan bagi dolar AS tetapi tidak akan merusak dominasinya sebagai alat tukar perdagangan minyak. Namun, itu akan mengingatkan Washington atas komitmennya. China membeli lebih dari 25% minyak yang diekspor oleh Arab Saudi. Mengingat bahwa kerajaan tersebut mengekspor sekitar 6,2 juta barel minyak mentah per hari dan China menjadi pembeli utamanya, penetapan harga penjualannya dalam yuan pasti akan memperkuat posisi global renminbi.
Secara keseluruhan, ini tidak akan memengaruhi greenback karena lebih dari 80% penjualan minyak dalam dolar AS. Saudi telah menjual minyak mereka dengan palat bayar dolar sejak 1974.
Sementara itu, dengan meningkatnya isolasi di Rusia, produsen minyaknya menghadapi masalah dengan ekspor bahan mentah. Banyak pedagang Barat menolak untuk membeli minyak kelas Ural unggulan negara tersebut.