Sementara dunia Barat terus mejatuhkan sanksi anti-Rusia yang baru, konsumen produk energi Rusia dari Asia memanfaatkan situasi, mereka membeli komoditas dengan harga yang lebih murah.
Sehubungan dengan sanksi Barat, termasuk larangan impor minyak dan gas Rusia, pasokan bahan bakar ke kawasan Asia meningkat tajam, dengan China menjadi tujuan utama. Negara itu menerima gas alam dari Rusia secara langsung melalui saluran pipa gas The Power of Siberia, dengan harga kurang dari $200 per 1.000 meter kubik. India tertinggal tidak jauh dibelakangnya. Negara itu tidak dapat membanggakan volume yang besar sejauh ini tapi terus menambah impor minyak dari Rusia. Pada bulan Maret, pasokan minyak naik tiga kali lipat ke 360.000 barel dalam sehari pada skala tahunan.
Menurut para pakar di Kpler, India sebelumnya membeli minyak mentah CPC, campuran minyak Kazakhstan dan Rusia. Namun, pada bulan Maret, setelah larangan pada impor migas Rusia diberlakukan, India mengalihkan perhatiannya ke campuran minyak mentah terpopuler Rusia untuk ekspor, yaitu Ural. Selain itu, campuran tersebut kini dijual dengan potongan harga yang besar. "Kargo-kargo minyak dari Rusia yang tidak dapat menemukan pembeli di Eropa kini dibeli oleh India. Ekspor ke India melonjak sebelum adanya pengumuman resmi dari New Delhi," Alex Booth, kepala penelitian di Kpler mengatakan.
“Perusahaan-perusahaan India tidak memperoleh untung banyak dari Rusia mengingat biaya pengiriman yang tinggi. Menurut saya tiga perusahaan kilang minyak milik pemerintah akan membeli minyak dari Rusia mengingat betapa bergantungnya negara itu pada impor energi dan betapa sensitifnya isu ini secara politik untuk rakyat India," Vivekanand Subbaraman, analis penelitian di Ambit Capital, menjelaskan.