Jika negosiasi antara Arab Saudi dan China untuk menjual minyak dalam mata uang yuan berhasil, itu akan memukul telak perekonomian AS. Pada tahun 1974, Kerajaan berjanji untuk menjual minyak hanya dalam dolar. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat menjamin keamanan ekonominya. Namun, otoritas AS saat ini tidak secara khusus mengamati perjanjian ini.
Tampaknya pemerintahan Joe Biden mengabaikan komitmennya. Oleh karena itu, Arab Saudi mungkin mulai mencari mitra baru, misalnya China. China akan sangat senang dengan kerja sama seperti itu. Beijing telah berusaha membujuk Saudi untuk menggunakan alat bayar renminbi selama enam tahun. Namun, negosiasi ini baru diintensifkan tahun ini. Faktanya, Arab Saudi tidak puas dengan cara AS memenuhi kewajibannya untuk melindungi kerajaan. Selain itu, negara itu ingin mengurangi ketergantungannya pada dolar.
Seorang staf penulis The Wall Street Journal mengatakan keputusan untuk berhenti mendukung operasi khusus Arab Saudi melawan Houthi di Yaman, yang dibantu oleh Iran, menjadi salah satu langkah kebijakan luar negeri pertama pemerintah. Selain itu, AS menunda rencana penjualan senjata ke Riyadh, tambah wartawan tersebut. Menurut penulis artikel tersebut, Riyadh waspada ketika pemimpin AS mencoba menyetujui kesepakatan baru program nuklir Iran yang akan menyediakan sumber daya bagi Teheran. Namun, Amerika Serikat membutuhkan semua sekutu yang bisa didapatnya dari wilayah ini sekarang.