RUB akan memimpin kampanye anti-dolarisasi

Para pakar dari Barat sepakat tentang dampak buruk sanksi anti-Rusia terhadap perekonomian global dan Dolar AS pada khususnya. Barat tidak akan bisa mengatasi kesulitan tanpa mitra yang signifikan seperti Rusia. Sanksi yang dijatuhkan terhadap Rusia oleh AS dan sekutu Eropanya telah menempatkan Dolar AS pada posisi defensif.

Dana Moneter Internasional telah memberi peringatan. Lembaga pemberi pinjaman yang dikelola AS telah melihat risiko terhadap kekuasaan Dolar AS. “Dolar akan tetap menjadi mata uang global utama bahkan dalam lanskap itu, tetapi fragmentasi pada tingkat yang lebih kecil tentu sangat mungkin terjadi,” Gita Gopinath, wakil direktur pelaksana pertama IMF menyatakan dalam sebuah wawancara dengan Financial Times. Sejumlah langkah besar-besaran terhadap Rusia termasuk pembatasan pada bank sentralnya. Kebijakan ini mendorong munculnya blok mata uang kecil yang berdagang satu sama lain menggunakan mata uang nasional mereka. Rusia telah berusaha selama 10 tahun untuk mengurangi ketergantungannya pada Dolar AS. Namun, kampanye ini berjalan lamban. Menariknya, sejumlah sanksi keras untuk menghukum Rusia atas invasinya ke Ukraina telah dimulai. Gita Gopinath memperingatkan bahwa penggunaan yang lebih luas atas mata uang lain dalam perdagangan global akan mengarah pada diversifikasi lebih lanjut dari aset cadangan yang dimiliki bank sentral nasional. Secara keseluruhan, pangsa Dolar AS dalam cadangan devisa internasional telah menyusut hingga 60 persen selama dua dekade terakhir. Pejabat IMF juga meyakini bahwa perang di Ukraina akan meningkatkan popularitas token digital dan Yuan Tiongkok.