Rusia Akan Mengekspor Energi Dengan Pembayaran Ruble

Pemerintah Rusia mengajukan sebuah proposal kepada perusahaan-perusahaan milik negara untuk menyiapkan daftar langkah-langkah meningkatkan volume pembayaran ruble dan beralih dari dolar dalam pembayaran ekspor. Ini adalah langkah serius dimana perusahaan-perusahaan milik negara pengekspor energi telah menyatakan kesiapan mereka, namun masih ada keraguan apakah importir akan menyetujui langkah ini. Ruble bukanlah mata uang paling aman di dunia: hiperinflasi, biaya yang semakin meningkat dan volatilitas nilai tukar membebani patriotisme.


Ini hanyalah bisnis semata, sama sekali tidak bersifat personal. Perusahaan-perusahaan besar termasuk Rosneft, Gazprom, Transneft, Sberbank, VTB, Gazprombank dan beberapa perwakilan Kementerian Keuangan, Kementerian Pembangunan Ekonomi dan bank sentral berkumpul dalam sebuah rapat tertutup. Hasilnya, kedua kementerian diperintahkan untuk mempelajari kemungkinan meningkatkan pembayaran ruble pada operasi ekspor, dan bank sentral diminta untuk menghitung potensi-potensi resiko finansial. Program transisi ke penggunaan ruble telah berkali-kali dibahas, namun dengan peristiwa-peristiwa politik terbaru di Timur Eropa, kebutuhan untuk pembayaran ruble semakin meningkat.


Ancaman sanksi dari Barat membuat Rusia segera membangun sistem keuangan domestik. Pemerintah ingin memulai pembayaran menggunakan ruble untuk ekspor gas dan minyak, dan setelahnya di kontrak-kontrak pertahanan. "Kami dapat dan akan meningkatkan volume pembayaran ruble; namun, kami tidak akan berhenti menggunakan mata uang lain dari 1 Januari 2015. Pertanyaannya ada dalam biaya ekonomi dan kesiapan sistem perbankan kami," Deputi Menteri Keuangan Rusia Alexei Moiseev mengatakan. Dari seluruh perusahaan milik negara, hanya Transneft yang menyetujui sistem baru. Gazprom dan Rosneft menolak untuk berkomentar.