Pemerintah Iran telah membatalkan transaksi senilai $2,5 miliar dengan raksasa minyak Cina untuk mengembangkan ladang minyak utama di bagian selatan Cina setelah perusahaan tersebut gagal memenuhi kewajibannya. Kontrak minyak tersebut biasanya dapat membangun kerja sama yang bertahan lama. Sebelumnya, Kementerian Perminyakan Iran telah memberikan waktu 90 hari kepada Perusahaan Minyak Nasional Cina (CNPC) untuk memenuhi kewajibannya atau perusahaan tersebut akan dikeluarkan dari proyek ini. Namun, ketika CNPC tidak mampu memenuhi kewajibannya, para pejabat pemerintahan Iran memutuskan untuk menghentikan proyek tersebut. Secara mengejutkan, importir minyak asal Cina tersebut tidak melakukan upaya apapun untuk menyelesaikan perselisihan ini. Direktor Pelaksana Perusahaan Minyak Nasional Iran (NIOC) Rokneddin Javadi mengatakan, "Ultimatum selama 90 hari telah diberikan kepada CNPC di Februari. Namun, kontraktor tersebut tidak mengambil tindakan apapun. Sehingga, pemerintah harus meninjau kembali pengembangan proyek ini." CNPC tidak segera merespon permintaan Iran. Para ahli menjeaskan alasan di balik diamnya perusahaan Cina dimana pemerintah Cina kemungkinan mengubah daftar prioritas saluran energi. Cina memilih untuk mengembangkan simpanan minyak yang baru di Timur Jauh Rusia dibandingkan dengan Timur Tengah. Sebagai referensi, perusahaan milik negara CNPC menandatangai kontrak dengan Iran di 2009 untuk mengembangkan ladang minyak yang besar di Azadegan, barat daya Iran. Proyek ini bernilai $2,5 miliar. Menurut para ahli dari Gazprom, ladang minyak Rusia mengandung 150 juta ton minyak. Sehingga, proyek dengan Rusia diperkirakan akan menghasilkan hampir 10.000 ton minyak per harinya. Yang menarik, sanksi yang dijatuhkan AS dan UE terhadap Iran memaksa negara Timur Tengah tersebut untuk memasok minyak terutama dari negara-negara Asia. Cina selalu menjadi konsumen utama minyak Iran di kawasan Asia. Sanksi-sanksi tersebut dijatuhkan ke Iran sebagai respon dari diluncurkannya program nuklir oleh Iran, dimana komunitas Barat meyakini bahwa Iran tengah mengembangkan senjata nuklir yang berkedok penelitian atom untuk perdamaian.