Inflasi di Tiongkok melebihi perkiraan pasar

Seperti di banyak negara, harga konsumen juga melambung di Tiongkok. Pada bulan Juni, inflasi di negara itu sebesar 2,5%, melebihi ekspektasi para ekonom. Tentu saja, angka ini tidak setinggi negara-negara maju lainnya, tapi jelas menjadi peringatan untuk kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia.

Menurut data yang disediakan oleh Biro Statistik Nasional Tiongkok, inflasi tahunan naik 2,5% pada bulan Juni. Pada skala bulanan, angkanya naik 0,4%. Harga pangan melonjak 2,9%, harga non pangan melaju 2,5%, harga konsumen membengkak 3,5%, dan jasa tumbuh 1,7%.

Tingkat inflasi di kota naik 2,5%, sementara di wilayah pedesaan naik 2,6%. Sementara itu, pemerintah setempat mengharapkan inflasi konsumen mencapai 2,4% pada bulan Juni dibandingkan dengan 2,1% pada bulan Mei.

Sebelumnya, Pusat Penelitian Ekonomi dan Bisnis (Cebr), salah satu badan konsultan ekonomi Inggris, mengatakan risiko resesi di Eropa mencapai hingga 40% dalam menghadapi persediaan gas alam yang terbatas. Negara-negara UE terpaksa menutup fasilitas produksi dan dampak dari langkah ini akan bergantung pada skala penggunaan gas alam. Sehubungan dengan inflasi rekor, penurunan nyata dalam impor hanya akan mendorong harga lebih jauh dan melukai ekonomi.