Biden pertimbangkan ambil tindakan responsif sebagai balasan pengurangan produksi minyak yang dilakukan OPEC+

AS tak berniat untuk menyingkir dari masalah tentang penurunan produksi minyak. Negara ini memutuskan untuk tidak menghiraukan ajakan produsen minyak terkemuka OPEC+. Joe Biden berpendapat bahwa intervensi pada minyak dan kemelekan konsumen (concious consumption) dapat dianggap sebagai tindakan balas dendam masuk akal terhadap pengurangan produksi minyak oleh OPEC+.

Saat pertemuan baru-baru ini, negara anggota OPEC+ memutuskan untuk mengurangi produksi minyak secara besar-besaran, mungkin terbesar sejak pandemi virus corona. Produksi minyak akan diturunkan 2 juta barel dalam sehari. Berita ini tidak hanya mendongkrak harga minyak namun ikut memicu reaksi instan dari AS. Demi menghindari defisit, Joe Biden mengumumkan intervensi minyak dan memerintahkan untuk melepaskan cadangan strategis minyak mereka. "Presiden kecewa dengan keputusan dungu OPEC+ yang memutuskan memangkas kuota produksi," kata Gedung Putih dalam pernyataan dari penasihat keamanan nasional Jake Sullivan dan Direktur Dewan Ekonomi Nasional Brian Deese. Presiden AS juga menyatakan bahwa timnya akan membantu perekonomian global untuk mengatasi “dampak negatif yang berkelanjutan.” Presiden Biden mengarahkan Departemen Energi untuk kembali melepaskan 10 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis AS bulan mendatang.

Terutama, pada musim semi mendatang, Joe Biden akan mengumumkan aksi jual 180 juta barel demi mengerem harga minyak. Akibatnya, harga minyak turun menjadi $90 per barel dari level tertinggi per-tahun. Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak yang juga berpartisipasi dalam pertemuan OPEC+, menjelaskan keputusan memangkas produksi minyak karena ada prediksi perekonomian global yang lebih suram global. Lalu keputusan ini juga membantu niat negara produsen minyak yang ingin menstabilkan pasokan minyak sebelum penurunan permintaan musiman.