Ada kabar yang menyebut Rishi Sunak sedang mempertimbangkan keputusan yang cukup kontroversial. Sunak yakin bahwa semua warga negara harus membayar lebih banyak pajak untuk memulihkan stabilitas keuangan publik sudah tidak dapat dihindari. Anehnya, mantan Perdana Menteri Liz Truss dahulu sempat berniat mengurangi sebagian pajak. Namun, kebijakan pajaknya dikritik habis-habisan oleh pembuat kebijakan. Akibatnya, Lizz memtuskan untuk mengundurkan diri. Sunak memutuskan untuk memilih strategi lain dan tidak mengulangi kesalahan Truss.
Tidak lama berselang, Sunak menjabat sebagai Rektor Bendahara dan mampu menangani pekerjaannya dengan baik. Khususnya, ia memimpin departemen selama periode yang agak sulit. Sekarang, dia adalah perdana menteri yang berarti tanggung jawab yang lebih tinggi. Tampaknya dia bermaksud untuk bertindak tegas dan menghidupkan kembali ekonomi bahkan apabila kebijakannya berdampak buruk pada citra dirinya. Misalnya, Sunak mengusulkan kenaikan pajak dan pemotongan belanja publik senilai hingga £50 miliar ($57,3 miliar) per tahun untuk mengisi kekosongan di anggaran publik. Keputusan seperti ni tidak mungkin membuatnya lebih populer di kalangan orang Inggris, tetapi keputusan ini pasti akan membantu ekonomi negara itu kembali ke jalurnya.
Analis di Financial Times percaya bahwa ini merupakan keputusan sulit. Setiap orang harus membayar pajak lebih tinggi untuk memastikan perbaikan situasi ekonomi. Setelah meminjam ratusan miliar pound selama pandemi dan memberikan paket bantuan bagi rumah tangga yang berjuang membayar tagihan listrik yang melonjak, Inggris hampir nyaris kesulitan mengisi kekurangan anggaran hanya dengan memangkas biaya.
Menariknya, langkah-langkah yang diusulkan akan mempengaruhi Rishi Sunak serta dia lebih kaya dari Raja Charles III. Rishi Sunak dan istrinya Akshata Murthy termasuk di antara orang-orang terkaya di Inggris dengan kekayaan bersama sebesar £730 juta ($844 juta). Itu juga lebih dari dua kali lipat kekayaan Raja Charles III, yang diperkirakan sekitar £370 juta.