Para anggota Demokrat dan Republik dapat menyebabkan AS gagal bayar utangnya

Perseteruan antara para anggota partai Demokrat dan Republik dapat memicu gagal bayar di Amerika Serikat, yang pada akhirnya akan merugikan perekonomian negara. Sementara itu, terus meningkatnya utang publik yang mencapai rekor $31,4 triliun memicu kobaran api.

Dalam hal ini, GOP menyarankan pemerintah untuk tidak membayar bantuan sosial dan medis kepada masyarakat, sementara Partai Demokrat menyarankan untuk menaikkan plafon utang. Namun, otoritas AS tidak mengindahkan proposal tersebut karena khawatir langkah tersebut dapat merusak peringkat kredit AS.

Menurut Mark Zandi, kepala ekonom di Moody's Analytics, Amerika Serikat akan memasuki resesi pada tahun 2023. Sebelumnya, Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, meminta plafon utang dinaikkan untuk menghindari terjadinya hal itu. Jika sebaliknya, pemerintah tidak akan mampu membayar utangnya. Namun, banyak pakar tidak setuju dengan pendekatan ini dan menganggap batas pinjaman $31,4 triliun dibuat-buat.

Mereka menilai para anggota partai Republik dan Demokrat, yang ingin mengalokasikan dana sesuai kebutuhan, memiliki kepentingan dalam situasi saat ini. Pada saat yang sama, GOP mengusulkan untuk mengikat pengeluaran dengan PDB negara. Beberapa ekonom menyebutnya sebagai ide yang praktis dan progresif. Mereka berpendapat bahwa makin besar PDB, makin tinggi kemungkinan untuk meminjam. Sedangkan para anggota Demokrat menganjurkan untuk terus meningkatkan plafon utang.

Dengan latar belakang ini, risiko gagal bayar di Amerika Serikat meningkat. Mata uang nasional baru untuk negara tersebut dan beberapa sekutunya bisa menjadi salah satu jalan keluar dari situasi tersebut. Namun, itu akan menjadi tindakan yang ekstrem. Sebenarnya, beberapa kalangan keuangan sudah membahas kemungkinan seperti itu pada tahun 2008.

Amerika Serikat mungkin juga merestrukturisasi utang nasionalnya. Itu tidak berarti gagal bayar. Namun, pemerintah tidak akan mampu membayar utangnya. Memang, pembayaran obligasi, sosial, dan asuransi saat ini dilakukan melalui pinjaman baru.

Pemerintah AS tidak ingin kehilangan statusnya sebagai peminjam yang andal dengan menggeser tanggal jatuh tempo pembayaran. Para pakar berasumsi bahwa Amerika Serikat mungkin akan segera bertemu dengan para pemegang utang terbesarnya, termasuk Jepang ($1,08 triliun) dan Tiongkok ($870 miliar), untuk mengatasi masalah tersebut.