Setelah dimulainya konflik militer di Eropa Timur, AS, yang bersekutu dengan Eropa, memberlakukan sanksi berat terhadap Rusia. Namun, ternyata dolar AS mungkin tidak lagi menjadi mata uang global karena ekonomi Rusia, yang terkena sanksi berat, terbukti lebih tangguh daripada yang dapat dibayangkan. Di Twitter, Marjorie Taylor Greene, seorang anggota Kongres yang mewakili Georgia, menyatakan bahwa dolar AS mungkin kehilangan statusnya sebagai mata uang dunia. Greene menyatakan bahwa sanksi tersebut menyerang balik dan memukul mata uang nasional alih-alih perekonomian Rusia. "Sanksi berat Rusia membuktikan kepada dunia bahwa mereka tidak membutuhkan dolar AS atau persahabatan untuk berdagang dan berkembang," ujar anggota kongres tersebut dalam cuitannya. Pembatasan yang diberlakukan tidak menghentikan Rusia dalam perdagangan internasional. Apalagi, beberapa mitranya melakukan transaksi dalam mata uang nasional. Banyak negara memantau situasi ini dan mulai mempertanyakan dominasi dolar AS dalam pembayaran internasional. Mengomentari tindakan pemerintah AS, Greene menunjukkan bahwa konflik di Ukraina menguras sumber daya militer, mendorong inflasi di AS, dan merugikan perdagangan dunia. "Itu juga dapat mengakibatkan dolar tidak lagi menjadi mata uang dunia. Karena kesombongan kita sendiri dan 'perjuangan untuk menyelamatkan demokrasi' di Ukraina yang bukan anggota NATO," tegasnya. Selain itu, Greene mendesak otoritas AS untuk segera mengakhiri konflik di Ukraina dan menentang alokasi miliaran dolar untuk membantu Kyiv.