Risiko resesi di Jerman mencapai puncaknya

Menurut Federal Statistical Office (Destatis), sebagian besar sektor utama pada perekonomian Jerman telah menghadapi kemerosotan.

Pada kuartal ketiga 2023, perekonomian zona euro terbesar tersebut mengalami kesulitan, yaitu, penurunan industri. Situasi ini bisa diamati pada berbagai sektor utama.

Dalam periode waktu yang ditentukan, kinerja ekonomi dalam industri, diluar konstruksi, anjlok 3,8% pada basis tahunan. Penurunan ini bisa dijelaskan oleh pengurangan produksi mobil-mobil baru dan suku cadang kendaraan. Kecenderungan yang sama juga tercatat dalam sektor pasokan energi.

Pada kuartal ketiga 2023, nilai tambah bruto yang disesuaikan dengan harga dalam jasa transportasi dan akomodasi turun sebesar 0,4% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2022. Oleh karena itu, ekspor negara tersebut turun sebesar 3,8% dari tahun ke tahun.

Ruth Brand, Presiden Kantor Statistik Federal, mengatakan kinerja ekonomi hampir stagnan dalam dua kuartal pertama tahun ini. Dengan demikian, pada Januari-Maret 2023 pertumbuhannya nihil, sedangkan pada April-Juni indikatornya naik 0,1%. Dengan kata lain, situasi mencekam selama tiga kuartal berturut-turut.

“Setelah lemahnya perkembangan ekonomi yang terlihat pada paruh pertama tahun 2023, perekonomian Jerman memulai paruh kedua tahun ini dengan sedikit penurunan kinerja,” kata Ruth Brand.

Sebagai referensi, data resmi mengenai penurunan ekonomi memenuhi perkiraan awal yang diberikan oleh Destatis. Menurut para ahli yang disurvei oleh Bloomberg, kontraksi ekonomi dapat disebabkan oleh kenaikan suku bunga acuan, penurunan permintaan global terhadap produk-produk Jerman, dan harga energi yang lebih tinggi di UE. Dengan kondisi saat ini, risiko terjadinya resesi dalam jangka menengah cukup tinggi.