Amerika Serikat dan sekutunya mengambil strategi untuk memberikan tekanan pada Liberia, Marshall Islands, dan Panama sebagai bagian dari upaya terbaru mereka untuk mentarget ekspor minyak Rusia. Bendera negara-negara ini digunakan oleh sejumlah perusahaan untuk mengirimkan minyak Rusia pada harga lebih dari batas $60 per barel yang ditetapkan oleh Barat. Sebagai responnya, otoritas negara-negara Barat mendesak ketiga negara ini untuk mengintervensi praktik tersebut. Perusahaan-perusahaan minyak yang mengirimkan minyak Rusia menukar bendera di kapal agar terhindar dari sanksi. Tindakan ini tidak mendapatkan perhatian serius dari Liberia, Marshall Islands, dan Panama. Diestimasi sekitar 40% dari 535 kapal tanki terlibat dalam operasi tersembunyi ini terdaftar di Marshall Islands. Pemerintahan Barat memperingatkan negara-negara ini bahwa kapal-kapal yang melakukan penukaran bendera tidak mendapat jaminan Barat dan memberikan risiko besar untuk setiap keterlibatan dengan mereka. Panama diperkirakan akan memenuhi permintaan AS dan menghindari aktivitas tersebut. Sebaliknya, Liberia dan Marshall Islands memilih untuk memberikan peringatan kepara para pedagang agar tidak menggunakan bendera mereka untuk aktivitas ilegal, dan tidak mengambil tindakan langsung. Sebelumnya, negara-negara Barat memberikan batas harga pada pengiriman minyak Rusia melalui laut sekitar setahun lalu. Terlepas dari pelanggaran dini batas harga ini, badan penegak hukum awalnya ragu memberikan hukuman. Namun, sejak pertengahan November, AS meningkatkan upayanya. Alhasil, enam kapal tanki di bawah bendera Liberia dimasukkan ke dalam daftar hitam karena keterlibatan mereka mengirimkan minyak Rusia. Langkah ini mendorong tiga perusahaan perkapalan besar Yunani menghentikan pengiriman minyak mereka dari Rusia.