Pejabat IMF: Ekonomi global di ambang perang dingin yang baru

Gita Gopinath, Deputy Managing Director IMF, mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Tiongkok semakin dekat dengan awal dari "perang dingin yang baru." Pejabat itu mencatat tingginya kemungkinan skenario tersebut terjadi jika negara-negara "terus menjauh." Perwakilan IMF itu percaya bahwa titik balik isu ini bisa jadi adalah tren investasi dan meningkatnya ketegangan dalam perdagangan. Saat ini, Tiongkok bukanlah mitra dagang terbesar untuk AS dan daya tariknya untuk para investor asing menurun drastis. Kemajuan dalam hubungan perdagangan yang dicapai sebelumnya terancam. Pada waktu yang sama, baik AS dan Tiongkok sama-sama memiliki ketergantungan ekonomi yang lebih kuat dari sebelumnya. "Jika fragmentasi makin dalam, kita dapat terjebak dalam perang dingin yang baru. Kita dapat menyaksikan keuntungan dari perdagangan terbuka terhapus," jelas Gita Gopinath. Kini, bukan hanya AS yang merenggangkan hubungan perdagangan dengan Tiongkok. Banyak negara, termasuk Meksiko, India dan UEA siap untuk mengikuti jalur ini. Situasi terkait isu ini makin buruk dan hubungan langsung antara Tiongkok dan AS digantikan dengan hubungan tidak langsung. Bukti dari tren ini adalah pergeseran produksi elektronik oleh perusahaan-perusahaan besar AS ke Vietnam. Ini juga didorong oleh tarif pajak yang tinggi di AS pada produk-produk asal Tiongkok. Sementara itu, Vietnam menerima sebagian besar sumber dayanya dari Tiongkok, tapi ekspor negara itu banyak tertuju ke AS. Terkait Meksiko, negara ini menjadi eksportir barang terbesar ke AS pada 2023, melewati Tiongkok dalam hal ini.