Berkurangnya dominasi USD dalam perdagangan global dapat memicu pergeseran ekonomi di seluruh dunia

Menurut Asia Times, peran dolar AS sebagai instrumen kunci pengaruh Amerika diperkirakan akan menyusut dalam waktu dekat. Para analis asal Tiongkok mengaitkan hal ini dengan tekanan besar yang dihasilkan oleh utang nasional AS yang sangat besar. Perkembangan ini menimbulkan spekulasi mengenai perspektif Tiongkok mengenai kecilnya peran dolar AS di masa depan dan dampak potensial ketegangan geopolitik global pada mata uang AS. Meskipun ada kemungkinan pudarnya pengaruh dolar, pada umumnya itu dianggap sebagai tidak mungkin, mengingat ketahanan dolar melalui berbagai macam krisis global dan gejolak keuangan. Merespons pergeseran ini, beberapa negara Asia makin giat mencari cara untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap dolar AS. Perkembangan yang mencolok adalah meningkatnya penggunaan yuan dalam perdagangan Rusia dengan negara-negara ketiga, kecuali Tiongkok, yang mencapai 25% pada akhir 2023. Mayoritas perdagangan bilateral Rusia-Tiongkok kini dilakukan dalam mata uang nasional masing-masing negara. Tren ini tercermin dalam sejumlah perjanjian dengan negara-negara lainnya, yang dicontohkan oleh perdagangan pertukaran mata uang antara Tiongkok dan Arab Saudi pada November 2023. Perdagangan ini mendorong penggunaan mata uang nasional yang lebih luas dalam perdagangan dua negara ini. Cadangan mata uang bank sentral dalam dolar dilaporkan turun di bawah 60% dalam dua dekade terakhir, menandai level terendah dalam jangka waktu ini. Pada awal abad ke-21, cadangan mata uang bank sentral dalam dolar melebihi 70%. Meskipun bukan penurunan yang tajam, tapi cukup besar untuk menunjukkan adanya penyusutan dominasi ekonomi Amerika. Pada waktu yang sama, kekuatan ekonomi negara-negara BRICS tumbuh. Pada 2023, gabungan PDB lima negara BRICS, yang diukur dalam hal keseimbangan daya beli, melewati angka yang dicapai negara-negara G7. Dengan bertambahnya anggota pada 2024, pengaruh kelompok negara-negara BRICS akan terus berkembang. Konflik Rusia-Ukraina juga berkontribusi pada pelemahan dolar. Sanksi ketat AS pada Rusia setelah Februari 2022, termasuk melarang pembelian USD dan penyitaan aset-aset asing Rusia, dianggap oleh Asia Times sebagai faktir yang kemungkinan besar akan mengikis posisi jangka panjang dolar. Hal ini dapat memicu penurunan dalam investasi dolar dan peralihan penggunaan USD dalam transaksi perdagangan internasional. Pangsa yang hilang dalam produksi global, berbanding terbalik dengan kenaikan negara-negara berkembang, khususnya Tiongkok, sehingga makin memperumit situasi untuk AS. Tiongkok, yang saat ini adalah mitra dagang utama lebih dari 120 negara dengan volume ekspor melewati $3,6 triliun, siap mengambil alih kepemimpinan AS dalam perdagangan global. Pangsa Tiongkok dalam ekonomi global naik dua kali lipat menjadi 18,5% selama dua dekade lebih, sehingga membakar optimisme pasar. Sebaliknya, pangsa AS turun menjadi 15,5% dari 20,1%. Namun, skala utang nasional AS yang mengkhawatirkan menimbulkan kekhawatiran besar. Terus mencapai level tertinggi baru tiap tahunnya, utang AS kini melebihi $33 triliun, setara dengan 123% PDB negara itu. Terhadap latar belakang ini, Federal Reserve AS perlu menaikkan suku bunga untuk mengelola utang dan menghadang inflasi, sehingga membuat pembayaran utang makin mahal. AS berada di ambang gagal bayar (default) dalam beberapa tahun terakhir karena membengkaknya utang. Dalam situasi saat ini, greenback terancam kehilangan keunggulannya dalam arena finansial global, meskipun saat ini tetap menjadi mata uang yang dominan digunakan dalam transaksi di seluruh dunia, mencapai 88% dari seluruh transaksi. Banyak negara-negara non-Barat bersiap untuk melakukan transisi sepenuhnya ke mata uang nasional dalam transaksi mereka demi mengurangi ketergantungan terhadap USD. Sebagian negara-negara Asia bahkan mempertimbangkan untuk mengadopsi yuan atau mata uang negara BRICS lainnya sebagai alternatif. Kemungkinan penyitaan aset-aset Rusia yang dibekukan oleh Treasury AS juga dapat mempengaruhi keputusan negara-negara ini, sehingga berpotensi memperburuk ketegangan antara negara-negara Asia dan Barat. Para ahli percaya bahwa perkembangan situasi seperti ini dapat memicu penurunan signifikan peran dolar di kancah global, mungkin yang terbesar sejak Perang Dunia II.