Ekonom Arthur Laffer peringatkan ‘dekade utang’

Para ekonom semakin memberikan peringatan dengan membuat perkiraan yang pesimistis. Menurut Arthur Laffer, pimpinan Laffer Tengler Investments, dunia berada di ambang krisis utang yang akan berlangsung selama 10 tahun ke depan dan kemungkinan besar tidak akan berakhir dengan baik.

Sang pakar memperingatkan bahwa dunia akan terjebak dalam perangkap utang. Terlebih lagi, tekanan ini bisa berakibat fatal bagi beberapa negara.

“Saya memperkirakan 10 tahun ke depan akan menjadi Dekade Utang. Utang secara global akan mencapai puncaknya. Ini tidak akan berakhir dengan baik,” jelas kepala perusahaan konsultan investasi tersebut. Dia mengingatkan bahwa pada bulan September 2023, utang global mencapai rekor $307,4 triliun. Sejak tahun 2013, pinjaman global telah melonjak $100 triliun.

Sebagai bagian dari produk domestik bruto global, utang global telah melonjak hingga 336%. Untuk memenuhi pembayaran utang, ratusan negara harus memotong pengeluaran sosial mereka, termasuk pada layanan kesehatan dan pendidikan, menurut estimasi Dana Moneter Internasional.

Sementara itu, beberapa negara akan mampu memperbaiki situasi fiskalnya jika mereka menarik pekerja berketerampilan tinggi dan investasi dari luar negeri. Namun, negara-negara yang kurang beruntung akan kehilangan pendapatan dan tenaga kerja. Laffer meyakini bahwa beberapa negara berkembang mungkin akan kolaps, sementara beberapa negara maju yang gagal mengatasi masalah utang mereka akan mengalami “kematian fiskal yang lambat”.

Saat ini, negara-negara maju seperti AS, Inggris, Jepang, dan Perancis menyumbang lebih dari 80% utang yang terkumpul, terutama pada tahun 2023. Sedangkan untuk negara-negara berkembang, beban utang yang membengkak terlihat di Tiongkok, India, dan Brasil. “Ada dua cara utama untuk mengatasi masalah ini: menaikkan pajak atau menumbuhkan perekonomian Anda lebih cepat daripada utang yang menumpuk,” saran pimpinan Laffer Tengler tersebut.

Sebelumnya, Nassim Taleb, ekonom dan penulis buku terlaris "The Black Swan", memperingatkan adanya "spiral kematian" yang akan dihadapi Amerika Serikat jika defisit anggaran dan utang terus meningkat. Menurut pakar tersebut, kekurangan uang dalam perbendaharaan Amerika membengkak sedemikian rupa sehingga dibutuhkan sebuah “keajaiban” untuk menyelamatkannya.