Kontrak berjangka gula AS diperdagangkan di kisaran 13,7 sen per pon, level terendah dalam dua minggu, karena ekspektasi pasokan berlimpah mengimbangi risiko geopolitik yang bersumber dari krisis Timur Tengah, termasuk kenaikan biaya minyak dan transportasi. Tekanan bearish pada harga gula mencerminkan proyeksi surplus global dalam panen mendatang, yang dipimpin oleh India.
Indian Sugar and Bio-energy Manufacturers Association (ISMA) melaporkan bahwa produksi negara tersebut antara 1 Oktober dan 28 Februari tahun tanam 2025/26 mencapai 24,75 juta ton, meningkat 12% dibandingkan periode yang sama pada musim sebelumnya.
Pada saat yang sama, analis di Czarnikow memperkirakan surplus gula global yang signifikan sebesar 8,3 juta ton pada 2025/26, diikuti dengan surplus tambahan sebesar 3,4 juta ton pada 2026/27. Konsultan lain memproyeksikan hasil yang sebanding: Green Pool memprediksi surplus 2,74 juta ton pada 2025/26 dan 156.000 ton pada 2026/27, sementara StoneX memperkirakan surplus 2,9 juta ton pada 2025/26.