Indonesia Isyaratkan Pelonggaran Produksi saat Batu Bara dan Nikel Tetap Kuat

Indonesia, produsen batu bara termal dan nikel terbesar di dunia, kemungkinan akan melonggarkan pembatasan produksi yang berlaku saat ini jika harga tetap tinggi, menurut Menteri Energi Bahlil Lahadalia setelah pertemuan dengan Presiden Prabowo. “Kalau harga tetap stabil, bagus, kami mungkin akan melakukan apa yang kami sebut relaksasi terukur terhadap rencana produksi,” ujarnya, sambil menekankan bahwa setiap penyesuaian akan dikalibrasi dengan kondisi pasar serta keseimbangan antara permintaan dan penawaran.

Pemerintah sebelumnya berencana menahan produksi pertambangan tahun ini untuk membantu menopang harga. Target produksi batu bara ditetapkan sebesar 600 juta ton metrik, turun dari sekitar 790 juta ton tahun lalu. Untuk nikel, kuota penambangan (RKAB) ditetapkan di kisaran 260–270 juta ton, lebih rendah dari perkiraan permintaan smelter sebesar 340–350 juta ton, menurut asosiasi industri FINI.

Namun, kuota RKAB tidak bersifat tetap dan dapat direvisi. Perusahaan tambang diwajibkan mengajukan rencana produksi tahunan untuk mendapatkan persetujuan pemerintah, sehingga otoritas memiliki ruang untuk menyesuaikan produksi sejalan dengan pergerakan harga dan perkembangan kebutuhan pasar.