Surplus perdagangan Brunei menyempit menjadi BND 467,9 juta pada Januari 2026 dari BND 516,9 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya, seiring melemahnya permintaan eksternal yang menekan kinerja ekspor. Pengiriman ke luar negeri turun 6,8% secara tahunan menjadi BND 1,15 miliar, terutama mencerminkan penurunan pada bahan bakar mineral (-7,8%) dan bahan kimia (-6,3%). Australia tetap menjadi pasar ekspor terbesar Brunei, menyumbang 30,2% dari total pengiriman, diikuti oleh China (22,8%), Jepang (12,2%), Singapore (10,5%), dan Thailand (9,4%).
Dari sisi impor, pembelian dari luar negeri menurun 4,8% menjadi BND 678,1 juta, terutama didorong oleh lemahnya permintaan untuk bahan bakar mineral (-13,3%). Singapore menjadi sumber impor terbesar (33,4%), disusul oleh United Arab Emirates (16,3%), Malaysia (13,9%), Australia (9,9%), China (5,4%), dan Vietnam (4,4%).
Secara keseluruhan sepanjang 2025, surplus perdagangan melemah menjadi BND 5,06 miliar dari BND 5,28 miliar pada 2024, seiring ekspor yang menyusut 10,4% dan impor turun 13,8%, yang mengindikasikan aktivitas perdagangan yang secara umum lebih lemah.