Harga Minyak Sawit Melemah, Berpeluang Catat Kenaikan Bulanan Terkuat Sejak April 2022

Kontrak berjangka minyak sawit Malaysia turun menembus MYR 4.800 per ton pada hari Selasa, memutus reli tiga sesi seiring pelaku pasar merealisasikan keuntungan, penguatan nilai tukar ringgit, serta pelemahan harga soyoil di bursa Dalian dan Chicago. Pelaku pasar juga bersikap lebih berhati-hati menjelang rilis data ekspor penuh bulan Maret yang akan keluar hari ini, setelah serangkaian laporan yang kuat sebelumnya. Sinyal dari pembeli utama, India, juga melemah, dengan perkiraan impor Maret sebesar 680.000 ton, turun dari 847.689 ton pada Februari, sehingga menambah tekanan penurunan harga. Regulator India memperpanjang penangguhan perdagangan derivatif pada sejumlah komoditas pertanian utama, termasuk crude palm oil, hingga Maret 2027, sebuah langkah yang berpotensi menekan aktivitas perdagangan.

Meski terkoreksi, kontrak berjangka minyak sawit masih berada di jalur untuk membukukan kenaikan bulanan yang kuat sekitar 17,6%, yang terbesar sejak April 2022, didukung reli harga minyak mentah di tengah ketegangan yang berkelanjutan di Timur Tengah. Di China, salah satu pembeli utama, aktivitas manufaktur membaik pasca Spring Festival, yang memperkuat prospek permintaan. Sementara itu, Indonesia, pemasok terbesar, kembali menegaskan niatnya untuk menerapkan mandat biodiesel B50 tahun ini.