Kontrak berjangka minyak mentah WTI naik hampir 5% ke kisaran $99 per barel pada hari Kamis, sebagian mengompensasi penurunan 16,4% pada sesi sebelumnya ketika ketegangan yang kembali memanas di Timur Tengah menimbulkan keraguan atas ketahanan gencatan senjata yang rapuh. Harga menguat setelah laporan meningkatnya aktivitas militer di dekat Selat Hormuz, yang memperbesar kekhawatiran akan potensi gangguan terhadap pengiriman minyak mentah, dengan sejumlah sumber mengindikasikan bahwa sebagian lalu lintas tanker sudah mengalami keterlambatan.
Tekanan jual tajam sebelumnya didorong oleh optimisme terhadap kemungkinan tercapainya gencatan senjata, yang sempat meredakan kekhawatiran pasokan sebelum sentimen berbalik. Ketidakpastian yang terus berlanjut terkait gencatan senjata tersebut terus memicu volatilitas, seiring para pelaku pasar menilai ulang stabilitas arus minyak dari kawasan tersebut.
Pada saat yang sama, OPEC+ tetap berpegang pada strategi produksi yang berhati-hati, dan penurunan terbaru dalam persediaan minyak mentah AS memperkuat ekspektasi akan ketahanan permintaan. Alhasil, harga kini mendekati level yang terakhir kali terlihat pada 2022.