Futures aluminium di Inggris telah melampaui $3,000 untuk pertama kalinya sejak 2022, didorong oleh kekhawatiran yang meningkat mengenai kekurangan pasokan. China, produsen aluminium terbesar di dunia, sekali lagi menekankan komitmennya untuk mencegah kelebihan kapasitas dalam produksi logam guna mengurangi tekanan deflasi pada produsen. Negara ini diperkirakan akan melampaui batas produksi 45 juta ton tahun ini, memaksa pabrik peleburan untuk membatasi pertumbuhan output hingga 2026. Skenario ini telah membuat perusahaan mengalihkan pasokan terbatas mereka ke pasar domestik alih-alih mengekspor, yang mengakibatkan penurunan ekspor tahunan sebesar 9,2% hingga November. Secara bersamaan, upaya pabrik peleburan China untuk mendirikan operasi baru di Indonesia menghadapi hambatan, terutama karena meningkatnya biaya energi dan tantangan regulasi. Di wilayah lain, seperti Islandia, Mozambik, dan Australia, biaya energi yang tinggi, kerusakan peralatan, kesulitan dalam memperoleh bauksit, dan ketegangan geopolitik telah menyebabkan penangguhan operasi peleburan yang signifikan.