Kontrak berjangka minyak mentah WTI kembali naik menembus $90 per barel pada hari Selasa, merebut kembali sebagian dari penurunan tajam sesi sebelumnya setelah Iran secara terbuka membantah klaim Presiden Donald Trump mengenai adanya kemajuan menuju penghentian konflik. Teheran menyatakan bahwa tidak ada perundingan yang sedang berlangsung, menyebut komentar Trump sebagai upaya mempengaruhi pasar keuangan, dan melancarkan serangan baru terhadap target-target AS, sementara Israel melanjutkan serangannya terhadap Iran.
Pada hari Senin, acuan minyak AS tersebut anjlok sekitar 10% setelah Trump menunda serangan yang telah direncanakan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari dan menyatakan bahwa negosiasi konstruktif sedang berlangsung. Penundaan itu secara luas ditafsirkan sebagai upaya untuk menenangkan pasar energi, dengan Trump berkomentar bahwa harga akan “jatuh seperti batu” begitu kesepakatan tercapai.
Namun, prospek adanya pembicaraan yang bermakna, serta kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz, masih sangat tidak pasti, sehingga membuat para investor tetap waspada. Konflik tersebut secara efektif telah menutup titik cekik global yang sangat penting ini—yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia—dan memaksa produsen di seluruh Timur Tengah untuk memangkas produksi secara tajam.