Won Korea Selatan diperdagangkan mendekati 1.497 per dolar AS, nyaris tidak berubah seiring membaiknya sentimen risiko setelah muncul tanda-tanda meredanya ketegangan di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump mengindikasikan adanya kemajuan dalam negosiasi dengan Iran, yang meningkatkan harapan atas potensi deeskalasi konflik. Perubahan ini mendukung pasar regional dan menurunkan permintaan aset safe haven terhadap dolar AS.
Meski demikian, penguatan won tertahan karena risiko mendasar masih berlanjut. Gangguan yang terus terjadi pada pasokan energi—termasuk pembatasan di Selat Hormuz dan hambatan produksi di QatarEnergy—membuat kekhawatiran tetap tinggi terkait kenaikan biaya impor dan tekanan inflasi di Korea Selatan. Pada saat yang sama, pembahasan mengenai perluasan lindung nilai valuta asing oleh National Pension Service mengisyaratkan potensi dukungan jangka panjang bagi won, meskipun pergerakannya dalam jangka pendek tetap terutama dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan volatilitas harga minyak.