Kontrak berjangka minyak mentah WTI turun mendekati $73,80 per barel pada hari Selasa, memangkas kenaikan tajam sebelumnya setelah Presiden Trump berjanji mengerahkan pengawalan angkatan laut untuk tanker di Selat Hormuz sehingga meredakan kekhawatiran pasokan dalam jangka pendek. Harga sempat melonjak lebih dari 8% di awal sesi setelah serangan drone terhadap kilang Ras Tanura milik Saudi Arabia dan kebakaran di hub minyak Fujairah milik UAE, tetapi komitmen militer AS untuk mengamankan pengiriman energi memicu koreksi tajam dari level tertinggi intrahari.
Bahkan setelah pembalikan tersebut, harga minyak mentah tetap berada dekat level tertinggi sejak Juni, karena lalu lintas kapal di Teluk Persia masih sebagian besar lumpuh dan perusahaan asuransi telah menarik pertanggungan risiko perang. Kemacetan logistik yang berkelanjutan ini mengurangi dampak pengumuman pengawalan tadi, dengan sekitar seperlima konsumsi minyak global masih dipersepsikan berada dalam risiko.
Menambah ketegangan, wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran dan eskalasi serangan selama empat hari terhadap fasilitas energi utama di Teluk terus memicu volatilitas. Perhatian pasar kini tertuju pada ketahanan pertahanan udara UAE di tengah gempuran berkelanjutan rudal yang diluncurkan oleh kekuatan yang didukung Teheran.