Kontrak berjangka crude palm oil Malaysia naik sekitar 1,5% hingga menembus MYR 4.250 per ton pada hari Jumat, memperpanjang kenaikan sesi sebelumnya dan mendekati level tertinggi lima minggu. Kenaikan ini didukung oleh pelemahan ringgit serta menguatnya harga minyak nabati di bursa Dalian.
Kontrak berjangka tersebut berada di jalur untuk membukukan kenaikan mingguan sekitar 5,5%, yang terkuat sejak pertengahan Agustus, seiring lonjakan harga minyak mentah di tengah konflik di Timur Tengah yang mengganggu aliran energi dan meningkatkan daya tarik bahan bakar nabati. Prospek permintaan juga membaik setelah impor palm oil oleh pembeli utama, India, naik 10,1% secara bulanan pada Februari ke level tertinggi enam bulan, didorong oleh pelebaran diskon dibandingkan minyak nabati pesaing.
Pada saat yang sama, jajak pendapat Reuters memperkirakan persediaan palm oil Malaysia kemungkinan turun untuk bulan kedua berturut-turut ke posisi terendah dalam empat bulan, dengan penurunan produksi musiman mengimbangi ekspor yang melemah. Meski demikian, lemahnya kinerja ekspor membatasi kenaikan lebih lanjut, karena perusahaan survei kargo melaporkan bahwa pengiriman Februari turun 21,5%–22,5% dibandingkan Januari, meskipun ada kegiatan restocking menjelang Idulfitri.
Pelaku pasar juga bersikap lebih berhati-hati menjelang rilis serangkaian data penting dari China, importir utama, yang akan keluar pekan depan, termasuk data CPI dan PPI serta angka perdagangan, yang dapat memberikan sinyal lebih jelas mengenai permintaan ke depan.