Kontrak berjangka seng (zinc futures) diperdagangkan sedikit di bawah $3.300 per ton, memperpanjang koreksinya dari level tertinggi hampir tiga minggu seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat menekan permintaan. Presiden Trump mengeluarkan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, dengan peringatan bahwa Amerika Serikat akan menargetkan jembatan-jembatan utama dan infrastruktur kelistrikan jika Tehran tidak mematuhi. Iran menolak ultimatum tersebut serta proposal mediasi untuk gencatan senjata sementara.
Meningkatnya ketegangan tersebut memperkuat minat investor terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai (safe-haven) pilihan, sehingga menambah tekanan ke bawah pada komoditas yang dihargakan dalam dolar seperti seng. Meski demikian, penurunan harga tetap terbatas di tengah membaiknya indikator industri dan kondisi pasokan jangka pendek yang ketat. Aktivitas pabrik di China kembali memasuki fase ekspansi pada Maret, memperkuat ekspektasi akan permintaan yang lebih kuat.
Dari sisi pasokan, penutupan tambang-tambang sebelumnya dan penundaan proyek terus memberikan dukungan bagi harga. Namun, dimulainya kembali operasi tambang Tara milik Boliden dan peningkatan produksi di proyek Kipushi milik Ivanhoe Mines diperkirakan akan membuat pasar seng berada dalam kondisi surplus yang moderat.