Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 166 poin atau 2,2% ke level 7.542 pada awal sesi perdagangan Jumat, menghapus kenaikan pada sesi sebelumnya setelah sentimen negatif dari Wall Street semalam, di tengah minggu yang bergejolak bagi pasar global akibat berlanjutnya ketegangan di Timur Tengah. Indeks acuan tersebut menuju penurunan mingguan kedua berturut-turut dan kini sudah turun sekitar 8% sepanjang tahun, setelah Fitch Ratings merevisi prospek Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, dengan alasan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan memburuknya kredibilitas kebijakan di tengah peningkatan sentralisasi pengambilan keputusan.
Selera terhadap aset berisiko juga tertekan oleh target pertumbuhan China tahun 2026 di kisaran 4,5–5%, yang merupakan level terendah dalam beberapa dekade, menegaskan lemahnya konsumsi dan berlanjutnya tekanan di sektor properti. Pelemahan terjadi secara luas, dengan hampir semua sektor berada di zona merah, dipimpin oleh sektor siklikal, industri, dan energi. Beberapa saham yang mencatat penurunan signifikan antara lain Elang Mahkota Teknologi (-3,9%), Astra International (-3,2%), Alamtri Minerals (-1,7%), dan Bank Tabungan Negara (-1,5%).
Pelaku pasar kini menantikan rilis data makro utama dari China pekan depan, termasuk data CPI dan PPI, serta data gabungan perdagangan untuk periode Januari–Februari.