Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia turun 43 poin, setara dengan penurunan 0,5%, menetap di 8.931 pada sesi perdagangan pagi hari Selasa. Penurunan ini secara efektif menghapuskan kenaikan moderat yang diamati pada sesi sebelumnya. Penurunan ini sebagian besar dipengaruhi oleh melemahnya futures AS karena kekhawatiran tentang kemungkinan penutupan pemerintah, langkah tarif baru Presiden Trump terhadap Korea Selatan, dan pendekatan hati-hati menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve yang diharapkan pada hari Kamis. Sentimen pasar semakin tertekan menjelang pembaruan ekonomi domestik utama yang dijadwalkan rilis minggu depan, termasuk angka inflasi Januari, statistik perdagangan Desember, dan angka PDB untuk kuartal keempat. Data positif dari China memberikan sedikit kelegaan, karena laba industri di sana meningkat 0,6% pada tahun 2025, pulih dari kenaikan marginal 0,1% dari Januari hingga November dan penurunan 3,3% pada tahun 2024. Di sektor energi, pemerintah Indonesia akan merilis kuota impor bahan bakar untuk pengecer swasta seperti Shell, Vivo, dan BP-AKR setiap enam bulan sekali. Meskipun ada kenaikan di saham energi dan siklikal, ini diimbangi oleh kerugian di sektor seperti bahan dasar, kesehatan, dan properti. Di antara penurun terbesar adalah perusahaan seperti Astra International (-3,6%), Amman Mineral (-3,2%), Aneka Tambang (-2,9%), dan Bank Central Asia (-1,3%).