Kontrak berjangka minyak sawit Malaysia menguat tipis pada hari Selasa, diperdagangkan di kisaran MYR 4.150 per ton dan memperpanjang kenaikan untuk sesi ketiga berturut-turut. Ringgit yang melemah, bersama dengan kinerja yang lebih kuat di pasar minyak nabati di Dalian dan Chicago, membantu menopang harga. Reli pada minyak mentah, yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara AS dan Israel dengan Iran, memberikan dukungan tambahan.
Di India, negara pembeli utama, impor minyak sawit pada Februari naik 10,1% secara bulanan ke level tertinggi enam bulan yaitu 844.000 ton, didorong oleh permintaan untuk pengisian kembali stok. Sementara itu, Indonesia, produsen terbesar di dunia, melaporkan lonjakan ekspor minyak sawit mentah dan olahan sebesar 77,1% secara tahunan pada Januari, serta menaikkan bea ekspor minyak sawit mentah menjadi 12,5% dari harga referensi untuk membantu membiayai program biodiesel.
Namun, di sisi ekspor, lembaga survei kargo menunjukkan bahwa pengiriman minyak sawit Malaysia pada Februari turun 21,5% hingga 22,5% dibandingkan Januari, meskipun secara musiman biasanya terjadi peningkatan permintaan menjelang libur Idulfitri. Pelaku pasar juga tetap berhati-hati menjelang rilis PMI China, di tengah kekhawatiran bahwa aktivitas bisnis mungkin tertekan oleh gangguan terkait perayaan Imlek di pasar pengimpor utama ini.