Baht Thailand menguat ke sekitar 32 per dolar AS, memperpanjang kenaikan untuk sesi ketiga berturut-turut dan mencapai level terkuat dalam hampir satu bulan, seiring gencatan senjata di Timur Tengah yang menurunkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Kesepakatan gencatan senjata tersebut mengungkap bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menyetujui jeda permusuhan selama dua minggu, nyaris menghindarkan kawasan itu dari potensi eskalasi besar.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyatakan bahwa akses ke Selat Hormuz akan tetap dibuka, dengan syarat adanya koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran. Konflik di Timur Tengah telah menjadi beban berat bagi perekonomian Thailand, terutama melalui kenaikan harga minyak, dan para pejabat telah memperingatkan bahwa dampaknya bisa melampaui kerusakan ekonomi yang terjadi selama pandemi COVID-19.
Saat ini investor memfokuskan perhatian pada keputusan kebijakan moneter Bank of Thailand yang dijadwalkan pada 29 April. Pada Februari 2026, bank sentral mengejutkan pasar dengan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 1%, berlawanan dengan ekspektasi bahwa suku bunga akan dipertahankan.