Peso Filipina melemah hingga mendekati 59 per dolar AS pada awal Maret, mendekati rekor terendahnya seiring memburuknya sentimen risiko di tengah konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah. Krisis tersebut mendorong kenaikan harga minyak, yang meningkatkan risiko bagi Filipina, negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar dan pangan serta dipandang sebagai salah satu ekonomi paling rentan di kawasan terhadap guncangan inflasi dan pertumbuhan. Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas, Eli Remolona, memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak hingga 100 dolar AS per barel dapat memerlukan pengetatan kebijakan moneter jika inflasi melampaui target bank sentral, sebuah langkah yang berpotensi semakin membebani perekonomian yang sudah berkinerja buruk. Ia juga menegaskan bahwa bank sentral memiliki ruang yang terbatas untuk mendukung pertumbuhan dan tidak terlalu berkeinginan untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing kecuali jika depresiasi peso menimbulkan ancaman terhadap inflasi. Inflasi harga konsumen meningkat menjadi 2,4% pada Februari, laju tercepat dalam lebih dari satu tahun, sehingga memperkuat kekhawatiran atas tekanan harga yang kian meningkat.