Kontrak berjangka gula AS melemah ke sekitar 14,3 sen per pon, mundur dari level tertinggi satu bulan di 14,6 sen yang tercapai pada 9 Maret, seiring turunnya harga minyak ketika investor semakin optimistis akan adanya penyelesaian cepat atas krisis di Timur Tengah. Dalam sebuah wawancara dengan CBS News, Presiden Trump menggambarkan perang melawan Iran sebagai “sangat tuntas” dan mengatakan bahwa Washington “jauh melampaui” kerangka waktu awal selama empat hingga lima minggu.
Meredanya ketegangan geopolitik membantu meredam kekhawatiran bahwa pabrik gula di seluruh dunia—terutama di Brazil, produsen terbesar di dunia—akan mengalihkan lebih banyak tebu ke produksi etanol, yang pada akhirnya memperketat pasokan gula. Karena sebagian besar etanol di Brazil berasal dari tebu, setiap peningkatan porsi tebu yang dialokasikan untuk produksi biofuel secara langsung mengurangi volume yang tersedia untuk gula.
Ke depan, sebuah jajak pendapat terbaru dari Reuters mengindikasikan bahwa harga gula kemungkinan akan menutup tahun ini sekitar 10% di atas level saat ini. Analis memperkirakan pasar gula global akan berbalik dari surplus 1,39 juta ton pada musim 2025/26 menjadi defisit 1,5 juta ton pada 2026/27, yang menjadi dasar prospek harga yang lebih bullish.