Dolar Australia bergerak di kisaran $0,71, menahan pelemahan baru-baru ini dan menuju penurunan mingguan pertama dalam sebulan seiring memburuknya sentimen risiko di tengah berlarut-larutnya konflik di Timur Tengah. Mata uang yang umum digunakan sebagai proksi risiko global ini tetap berada di bawah tekanan ketika bursa saham Asia memperpanjang koreksi dari rekor tertinggi, dengan optimisme memudar terhadap kemajuan berkelanjutan dalam negosiasi AS–Iran. Kekhawatiran yang meningkat mengenai potensi gangguan pengiriman energi melalui Selat Hormuz juga membebani sentimen dan mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.
Namun, pelemahan dolar Australia tertahan oleh ekspektasi bahwa Reserve Bank of Australia dapat menaikkan suku bunga bulan depan, didukung oleh pasar tenaga kerja yang kuat dan tekanan inflasi yang dipicu kenaikan harga minyak. Para investor kini menantikan rilis data inflasi penting yang akan keluar pekan depan sebagai panduan lebih lanjut terhadap prospek kebijakan moneter.
Selain itu, Jepang dan Australia bersiap untuk memfinalisasi perjanjian keamanan ekonomi pada awal Mei, mencakup energi, rare earths, pangan, dan komoditas penting lainnya. Kesepakatan ini diperkirakan akan memberikan dukungan tambahan bagi dolar Australia yang terhubung erat dengan pergerakan harga komoditas.