Investasi langsung asing (FDI) ke Indonesia, tidak termasuk sektor keuangan serta minyak dan gas, melonjak 27,4% year-on-year menjadi Rp257,7 triliun (USD 14,32 miliar) pada kuartal II 2026. Kenaikan ini menyusul pertumbuhan 8,5% pada kuartal I dan menandai laju pertumbuhan tercepat sejak kuartal IV 2024, meskipun ketidakpastian ekonomi global masih berlanjut akibat konflik di Timur Tengah.
Industri logam dasar menyerap porsi arus masuk terbesar, disusul oleh jasa lainnya dan sektor pertambangan. Singapore, Hong Kong, China, Japan, dan Malaysia tetap menjadi sumber utama investasi asing ke Indonesia.
Secara keseluruhan, FDI pada 2025 naik tipis 0,1% menjadi Rp900,9 triliun, melambat tajam dibanding lonjakan 21,0% yang tercatat pada 2024. Dalam beberapa tahun terakhir, investasi sangat kuat di sektor pertambangan dan pemurnian logam, didukung oleh larangan ekspor bijih nikel Indonesia sejak 2020 dan larangan ekspor mineral lainnya sejak 2023.