Rupiah Mendekati 18.100 karena Permintaan Aset Safe Haven dan Fundamental yang Lemah

Rupiah melemah mendekati IDR 18.100 per dolar AS pada hari Kamis, memperpanjang tren penurunan seiring memuncaknya kembali konflik di Timur Tengah yang mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga di Amerika Serikat akan bertahan lebih tinggi untuk lebih lama. Sentimen domestik juga memburuk, dengan penjualan ritel Indonesia pada Mei mencatat penurunan tahunan terdalam dalam tiga tahun terakhir, menegaskan pelemahan belanja konsumen setelah kenaikan harga BBM non-subsidi.

Pada saat yang sama, kepercayaan konsumen pada Juni turun ke level terendah sejak September, mengindikasikan bahwa rumah tangga semakin berhati-hati terhadap prospek pendapatan, kondisi pasar tenaga kerja, dan rencana belanja ke depan. Menambah tekanan, S&P Dow Jones Indices memberi sinyal bahwa Indonesia dapat diturunkan menjadi negara berstatus frontier market pada 2027, sehingga memicu kekhawatiran akan potensi arus keluar modal asing.

Kendati demikian, pelemahan rupiah sebagian tertahan oleh meredanya harga minyak, pertumbuhan kredit yang lebih kuat pada Mei, serta percepatan realisasi anggaran pemerintah, yang semuanya ditujukan untuk menopang aktivitas ekonomi.