Surplus neraca perdagangan Jepang menyusut tajam menjadi JPY 57,3 miliar pada Februari 2026 dari JPY 559,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, seiring pertumbuhan impor yang melampaui ekspor. Meski demikian, hasil tersebut jauh lebih baik dibandingkan perkiraan pasar yang memperkirakan defisit sebesar JPY 483,2 miliar.
Ekspor naik 4,2% year-on-year menjadi JPY 9.571,6 miliar, melambat tajam dari lonjakan 16,8% yang tercatat pada Januari dan menjadi laju terlemah sejak Oktober, mencerminkan melemahnya permintaan baik dari China maupun Amerika Serikat.
Di sisi lain, impor melonjak 10,2% menjadi JPY 9.514,3 miliar. Meskipun sedikit di bawah konsensus pasar sebesar 11,5%, capaian ini menandai rebound yang kuat dari penurunan 2,6% pada Januari dan merupakan pertumbuhan impor tercepat sejak Juli 2024. Kenaikan impor tersebut didukung oleh permintaan domestik yang solid, yang terbantu oleh paket stimulus fiskal besar yang digulirkan Tokyo pada bulan November.