Bitcoin naik hampir 1% ke sekitar $71.200 pada pertengahan Februari, menandai sesi kenaikan beruntun kelima, karena mata uang kripto tersebut sebagian besar tetap terlindungi dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Gejolak terbaru di kawasan itu mencakup serangan terhadap dua kapal tanker bahan bakar di perairan teritorial Irak dan serangan terhadap kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz, jalur sempit penting bagi pengiriman minyak global. Insiden-insiden ini telah mendorong kenaikan harga energi, membangkitkan kembali kekhawatiran mengenai kebangkitan inflasi global dan mendorong bank-bank sentral utama, termasuk Federal Reserve, untuk mengadopsi nada yang lebih hawkish, yang berpotensi menekan aset sensitif terhadap risiko seperti mata uang kripto. Para investor kini mencermati dengan saksama data ekonomi AS yang akan datang untuk mendapatkan sinyal yang lebih jelas mengenai arah kebijakan The Fed. Terlepas dari berbagai ketidakpastian tersebut, dalam beberapa waktu terakhir modal kembali mengalir ke Bitcoin, setelah berbulan-bulan aksi jual yang sempat memangkas harganya hingga sekitar setengah dari rekor tertinggi di atas $126.000 yang dicapai pada Oktober.