Saham Selandia Baru Bersiap Mengalami Penurunan Mingguan Dua Pekan Beruntun

Saham Selandia Baru turun 71 poin, atau 0,5%, ke level 13.130 pada awal perdagangan Jumat, memperpanjang pelemahan untuk sesi kedua setelah Wall Street melemah akibat lonjakan harga minyak. Keputusan Iran untuk tetap menutup Selat Hormuz memperburuk kekhawatiran inflasi, membuat NZX 50 berada di jalur penurunan mingguan kedua berturut-turut, dengan koreksi mendekati 3% sejauh ini.

Kehati-hatian investor juga bertahan menjelang rilis sejumlah data domestik penting pekan depan, termasuk angka inflasi pangan Februari dan PDB kuartal IV. Di sisi perdagangan, AS membuka penyelidikan baru terhadap beberapa mitra utama, termasuk China, menyusul putusan Mahkamah Agung bulan lalu yang membatalkan salah satu komponen kunci tarif era Trump.

Sejumlah tekanan jual tertahan oleh indikator domestik yang menggembirakan. Aktivitas manufaktur Selandia Baru meningkat untuk bulan ketiga berturut-turut pada Februari, sementara jumlah kedatangan wisatawan naik 4,1% secara tahunan, terutama didorong oleh peningkatan jumlah turis asal Australia.

Tekanan melemah meluas di berbagai sektor, dengan sektor consumer durables, healthcare, dan non-energy minerals berada di bawah tekanan. Beberapa saham yang turun signifikan antara lain Spark NZ (-2,2%), Freightways (-2,2%), Infratil (-1,4%), dan Turners Automotive (-1,2%).