Saham Indonesia menguat 57 poin, atau 1,0%, ke level 5.751 pada awal perdagangan Kamis, melanjutkan kenaikan untuk sesi kedua berturut-turut seiring meluasnya aksi beli di berbagai sektor utama. Pasar bergerak semakin menjauhi level terendah tiga minggu, mengikuti penguatan futures saham AS setelah dimulainya pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran di Doha pada hari Selasa.
Di dalam negeri, sentimen ditopang oleh berlanjutnya berbagai langkah pemerintah, termasuk pemangkasan harga LNG untuk industri, inisiatif ketahanan pangan, dan reformasi pasar modal. Namun, potensi kenaikan tertahan oleh data baru yang menunjukkan neraca perdagangan secara tak terduga berbalik menjadi defisit pada Mei—defisit pertama sejak April 2020—karena ekspor turun sementara impor naik tajam. Pada saat yang sama, inflasi naik ke level tertinggi dalam tiga bulan pada Juni, didorong oleh kenaikan harga pangan.
Menambah kekhawatiran, Fitch Ratings memperingatkan bahwa penurunan cadangan devisa yang berkelanjutan dapat membebani profil kredit sovereign Indonesia. Beberapa saham yang mencatat penguatan mencolok antara lain Hartadinata Abadi (naik 5,7%), Barito Pacific (4,7%), Elang Mahkota (3,7%), dan Bank Central Asia (3,1%).